Hari ini, tentang dia.

Habis sholat ashar.
Sudah jauh.. Lebih tenang dibandingkan tadi siang jam 2, setelah membaca sms nya dan email nya.

I’m the one who said goodbye
Dan aku pula lah yang selama 2 minggu terakhir ini memimpikan nya terus-menerus, sambil terus berlindung kepada “it is the right decision for us”

Ketika ini keputusan yang tepat, harusnya ini jauh lebih mudah untuk dijalani kan? Teori nya begitu. Tapi kenyataannya, sulit luar biasa.

2 hari terakhir ini aku ada di titik paling rendah. Mood sudah tidak tertolong. Rekan kerja sudah tidak diberi senyum. Aku cuma berusaha masih tetap menjalankan kewajibanku untuk ngajar, walopun susah sekali, karena bawaannya nahan nangis terus.

Aku mengambil keputusan untuk menjauh, dan menyampaikan juga padanya untuk tidak menghubungiku lagi, dalam keadaan sadar. Engga emosi berlebihan, totally sadar. Tapi kesadaran itu engga membuat ini semua jadi mudah. Pemahamanku bahwa ini yang paling baik secara logika, ketika dibenturkan dengan perasaan yang.. masih sangat kuat terhadap dia, akhirnya berubah jadi hari-hari penuh tangisan.

Parah.

Karena aku juga bukan tipe orang yang speak up menyampaikan apa yang ada di otak aku. Apapun yang aku rasain, aku diem. Kebanyakan begitu.

Sampai siang ini.

Setelah membaca email kerjaan dari dia, dan dia menyapa aku dengan sebutan “ibu”, which is he never did before. He always call me with Montisa, Monti, or Sa. Ibu? Hampir engga pernah.

And i cried.

When i realize.. maybe this is his answer for my text a couple weeks ago, when i said,
“Pak, sudah ya.. Jangan begini lagi. Jangan hubungi saya lagi kecuali untuk urusan kerjaan. Mari berusaha untuk tidak saling menyakiti lagi ya pak..”

I know he did the right thing, and i know i did the right thing, tapi tetep aja rasanya sakit sekali.

Aku sayang sama dia. Walopun aku tahu ini salah, walaupun aku tahu sampe kapan pun engga akan bisa bareng-bareng, walopun aku tahu..

Aku sayang sama dia, sayang sekali.

Aku cuma bisa berharap, semoga hati aku bisa nerima semuanya. Bukan hanya gambaran besarnya, tapi menerima. Menerima. Menerima.

Ini jadi pembelajaran, salah satu pembelajaran terbesar dalam hidup aku.

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.
-Dee, Rectoverso-

Tolong doakan aku semoga semua baik-baik saja ya.

Tolong doakan.. Aku bisa senyum dan tertawa yang bukan pura-pura, tolong doakan aku bisa memandangnya dengan biasa, tolong doakan.. Hati aku tidak hancur lebur dalam proses ini.

Tolong ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s